Kaliini kami hadirkan tulisan KH Muhamad Najih Maemoen beliau adalah Ulama muda NU yang sangat disegani keilmuanya dan dihormati ketegasannya dalam membawa ajaran lurus Nahdhotul Ulama yang kini justru sudah banyak dinodai oleh tokoh NU itu sendiri. Khilafah Dambaan Kita Semua Jakarta(SI Online) - Ketua Umum Komite Khittah Nahdlatul Ulama (KKNU) 1926 KH Solachul Aam Wahib Wahab menjelaskan alasan kenapa munculnya gerakan NU Garis Lurus dan KKNU di tengah-tengah keberadaan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). "Lahirnya kedua lembaga yaitu NU Garis Lurus dan KKNU karena salah kelola dari pengurus PBNU saat ini KH Nu'man Bashori Alwi adalah kakak kandung KH. Luthfi Bashori Alwi, Malang, yang namanya menjadi dikenal karena sikapnya yang kontroversial dan disebut menjabat sebagai Ketua NU Garis Lurus. Dalam acara Kopdar Kebangsaan bersama Gus Nuril, Gus Nu'man membeberkan riwayat adiknya dari masa kecil sampai menjadi terkenal saat ini. Berikut adalah transkrip lengkapnya dengan beberapa perbaikan Syukronmengatakan, mereka yang mengatasnamakan NU Garis Lurus tidak perlu direspon dan hanya lelucon saja. "Jadi sikap dan dukungan mereka yang mengatasnamakan NU Garis Lurus nggak perlu direspon, cuma segelintir orang saja. Anggap lelucon saja lah," tambahnya. Dia menyebut, segelintir orang yang mengklaim sebagai NU Garis Lurus adalah golongan yang berpaling dari rombongan Nahdlatul Ulama. ItulahNU Moderat, yang tawasut, tasamuh, tawazun, dan i'tidal. Bukan NU yang kanan atau yang kiri, tetapi NU yang di tengah-tengah. Di sinilah makna kebangkitan kaum intelektual, intellectuals enlightenment, atau Nahdlatul Ulama. Jadi, NU itu bukan KHR As'ad Syamsul Arifin saja dan bukan pula KH Abdurrahman Wahid semata. Semuaulama besar dan para imam kita adalah dari kalangan mereka; al-Baqilani, al-Isfaraini, imamul Haramain al-Juwaini, Abu Hamid al-Ghazali, al-Fakhr ar-Razi, al-Baidhawi, al-Aimidi, asy-Syahrastani, al-Baghdadi, Ibnu Abdissalam, Ibnu Daqiqil Id, Ibnu Sayyydinnas, al-Balqini, al-Iraqi, an-Nawawi, ar-Rafi'i, Ibnu Hajar al-Atsqalani dan as-Suyuthi. . Santri NU Banyak diantara kita yang masih sering salah kaprah dengan istilah / grup / kelompok "NUGL". Mereka mengira bahwa "NUGL" resmi legal. Bahkan ada yang menganggap bahwa NUGL itu NU-nya mbah Hasyim. Ada juga yang mengatakan bahwa "NUGL" itu Lebih NU dari NU. Usut punya usut, selidik punya selidik bahwa ternyata "NUGL" merupakan komplotan orang-orang yang terdiri dari, sbb 1. Sakit hati karena kalah dalam kontestasi pemilihan ketua umum tanfidziyah PBNU, yaitu sdr. Idrus Ramli 2. Orang yang baru lulus belajar agama di Timur Tengah ingin secara instan menjadi Imam Besar. 3. Orang-orang yang tidak mendapat tempat dalam kepengurusan di PBNU seperti Buya Yahya, Hb. Vad'aq, Muqtafi Abd. Sachal, Ja'far Shadiq, Luthfi Rochman dan Abbas Rahbini. Mereka merupakan orang-orang pada umumnya kalah, tergeser, tidak mendapat dukungan untuk duduk dalam kepengurusan di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU, sehingga mereka berkomplot membentuk wadah baru secara ilegal yakni "NUGL". Selain itu mereka komplotan "NUGL" seakan juga merasa menjadi yang paling alim diantara para ulama sesepuh NU yang telah merestui kandidat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang resmi yang telah terpilih secara aklamasi. Secara organisasi mereka membuat struktur organisasi sendiri sesuka hati tanpa melalui proses aklamasi, dan karena tidak memiliki keanggotaan struktural akhirnya mereka menggandeng eFPeI. Tetapi lucunya, disini ada dua Imam Besar yaitu Luthfi Bashori dan Ha eR eS. Nah lho !? Lucu kan... Walhasil, mereka NUGL pun berhasil menjaring sebagian kecil umat kultural yang masih sangat awam. Umat awam ini terbagi tiga yaitu 1. Umat awam nahdliyin yang masih awam 2. Umat awam yang fundamental yang penting aswaja 3. Umat awam pembonceng kepentingan Umat awam nahdliyin yang masih belum mengerti, adalah warga NU yang tidak mengerti garis perjuangan dakwah NU, tidak mengerti struktural organisasi NU, Sehingga mudah dikelabui oleh pihak-pihak lain diluar PBNU yang mengatasnamakan NU. Umat awam yang fundamental merupakan umat islam yang berakidah Ahlusunah waljamaah. Mereka biasanya hanya tahu kalau ahlusunah waljama'ah itu qunutan, tahlilan, maulidan, ziarah kubur. Tetapi semangatnya ahlussunahnya memang luar biasa namun otaknya sepi, sehingga mudah termakan hoaks dan fitnah. Seperti NU yang sekarang dengan NU-nya mbah hasyim itu berbeda. Atau NU Gusdur itu liberal, NU Kyai Said Syi'ah. Atau NUGL itu sama dengan NU-nya mbah Hasyim. Dan lain-lain sebagainya yang semuanya hanyalah hoaks dan fitnah. Tetapi mereka termakan oleh hoaks dan fitnah itu tanpa bisa berpikir jernih. Umat awam pembonceng kepentingan, adalah orang-orang yang memang berasal dari kelompok-kelompok yang membenci NU. Mereka sangat menginginkan kehancuran NU sehingga mereka ingin merusak NU dari dalam NU sendiri dengan memprovokasi warga NU yang tergolong dari 1 & 2 tsb diatas. Mereka senantiasa berupaya membuat air kolam NU menjadi keruh dan untuk memancing di air keruh tsb. Mereka berasal dari kelompok-kelompok yang ingin menguasai NKRI Untuk menguasai SDA, Sosial, Budaya, Politik dan Agama. Tetapi mereka harus menghancurkan penjaganya yaitu NU. Oleh karena itu mereka selalu membonceng utk mencari peluang yang bisa menghancurkan NU baik dari luar maupun dari dalam NU itu sendiri. Jadi, NUGL NU Garis Lurus merupakan gerakan yang berafiliasi dengan eFPeI karena secara akidah sama, tetapi sepertinya mereka juga tidak sadar kalau mereka juga dimanfaatkan oleh orang-orang dari kelompok Islam Transnasional seperti Ikhwanul Muslimin IM dan Hizbut Tahrir HTI Juga Wahabi / Salafi Wahabi Wahabiyin. Sehingga justru akhirnya mereka lebih cenderung menjadi NU rasa eFPeI atau NU rasa Wahabi. Sehingga garis perjuangan NUGL sudah keluar jauh dari garis perjuangan NU yang sesungguhnya yang mementingkan kepentingan bangsa dan agama serta kemaslahatan umat manusia Indonesia pada khususnya. Kiprah NUGL selama ini terus berusaha untuk memutus mata rantai antara warga nahdliyin dan ulama/kyai/habaib NU. Komplotan barisan sakit hati itu sangat mendukung upaya fitnah2 busuk kepada pimpinan PBNU yakni KH. Said Aqil Siradj. Mereka selalu berupaya bertentangan dengan pimpinan PBNU KH. Said Aqil Siradj, bahkan menuduh/menuding Kyai Said dengan sebutan "Kyai Liberal", yang point-nya adalah berusaha agar umat Islam warga nahdliyin tidak lagi menghormati, tidak lagi takdzim, tidak lagi percaya dan meninggalkan NU dibawah kepemimpinan PBNU yang saat ini dipimpin oleh KH. Said Aqil Siradj. Demikian pula yang ketika itu PBNU di pimpin oleh Gusdur pun mengalami hal yang sama, namun sesuai dengan apa yang diramalkan Gusdur ketika masih hidup kepada Kyai Said bahwa NU di bawah kepemimpinan sampeyan kyai said akan mengalami serangan Fitnah yang paling terbesar sepanjang sejarah NU. begitu kata almaghfurlah Gusdur. Upaya untuk menghancurkan NU dari dalam oleh komplotan NUGL tentulah segala macam cara, mulai dari stigmatisai "Syiah & Liberal" pada tokoh-tokoh NU, sampai stigmatisasi bahwa NU dibawah struktural PBNU telah keluar dari khittah. sadis kan .... Jadi pada kesimpulannya bahwa NUGL NU Garis Lurus adalah barisan orang-orang yang berkomplot untuk memutuskan dirinya dari rantai perjuangan NU. Sehingga semua pendapat serta keputusan yang terkait dengan orang/komplotan NUGL tidak ada kaitannya dengan NU. NU hanya ada satu NU, yaitu NU Nahdhatul Ulama dibawah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU, tanpa ada embel-embel garis bengkok, lempeng, lurus, ngaceng, dsb. Kepemimpinan NU PBNU adalah mata rantai yang terus bersambung dan berkesinambungan sejak NU nya Mbah Hasyim KH. Hasyim Asy'ari hingga saat ini KH. Said Aqil Siradj. Yang lainnya sudah pasti bukan NU atau NU-ilegal yang merupakan kelompok pengacau yang ingin menghancurkan NU. Kalau NU pasti Pro Pancasila dan Pro Bhineka Tunggal Ika, Akidah Islamnya Ahlussunah Waljama'ah, Dakwahnya sejuk, Semangatnya Hubbul Wathon Minal Iman. Kalau ada NU yang tidak Pro Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, pasti bukan NU, pasti cuma ngaku2 NU, pasti cuma membonceng NU. Oleh Adiba Tis'atun Najma Sucipto fb Synopsis Two years after it was first introduced, the Islam Nusantara theology of Nahdlatul Ulama NU, the largest Indonesian Islamic organisation, continues to face opposition from more conservative factions. This is casting a shadow over NU’s effort to promote the middle ground and toleration in Indonesia. Commentary TWO YEARS after the idea of Islam Nusantara was first introduced as a reinterpretation of the Nahdhlatul Ulama’s basic theological tenets, it continues to face opposition from conservative factions. Backing the resistance are theological critiques from younger clerics who seek to eradicate liberal influences from the organisation, the largest in Indonesia. The rift between the factions of NU current chairman Said Aqil Siradj and former general chairman Hasyim Muzadi can be seen in the East Java strongholds of NU. The opposition by NU Garis Lurus NU True Path, consisting of influential young clerics, constitutes a serious challenge to NU’s theological frame that had been instituted by former President Abdurrahman Wahid and his followers over three decades. These popular young clerics argue that Islam Nusantara is an invention of “liberal” thinkers while there is only one universal Islam for all Muslims that does not require “localised” intepretations such as Islam Nusantara. Reinterpretation of NU theology Introduced during NU’s national congress in Jombang, East Java two years ago, Chairman Said Aqil Siradj, said Islam Nusantara is the reinterpretation of NU’s basic theological tenets, which combines classical Islamic theology aqidah, jurisprudence fiqh and localised practices, such as offering prayers to the deceased tahlilan. It emphasises the understanding that Indonesian Muslims do not necessarily have to forgo their national and local identities. Instead, these values can coexist with their Islamic identities and together, they can lead one to be a devout Muslim and an Indonesian nationalist at the same time. This reinvention of NU theology has two purposes. Firstly, it is to respond to radical interpretation of Islam such as those expressed by the self-proclaimed Islamic State IS, which has gained attraction among some young Muslims worldwide, including those living in Indonesia. Secondly, it is to distinguish NU theology from more conservative organisations such as Hizbut Tahrir Indonesia HTI and other similar groups. NU leaders believe these groups are actively seeking new supporters from the ranks of NU followers, mainly those under 30. Critiques of Islam Nusantara Idea NU has held multiple seminars and conferences promoting Islam Nusantara for Indonesian as well as international audiences. It held two international conferences of Islamic scholars in November 2015 and May 2016. Its Research and Human Resources Development Institute Lakpesdam, and affiliated NU faculty at the State Islamic Universities UIN system, have regularly sponsored workshops on Islam Nusantara in numerous localities throughout Indonesia. However, despite these numerous activities, opposition against Islam Nusantara remains strong, not just from outside of the organisation, but also from numerous clerics and activists among NU’s followers. Some of this opposition can be attributed to factional rivalries within NU, especially between current chairman Said Aqil and the previous chairman Hasyim Muzadi. The previous chairman unsuccessfully challenged Said Aqil’s re-election bid as NU chairman during the 2015 muktamar. The failed attempt created a feud between the two factions that has not been fully resolved to this day. The rift can be seen clearly in East Java province, which historically is one of NU’s most important strongholds. As Hasyim Muzadi was the head of the organisation’s East Java branch before he was elected NU chairman in 2000, he commands significant following from senior clerics kyai and activists from the province. These clerics in turn order their boarding schools pesantren and students santri to oppose Islam Nusantara to reject Said Aqil’s legitimacy as NU chairman. Influential NU pesantrens such as Lirboyo in Jombang district and Sidogiri in Pasuruan district have announced their rejection of Islam Nusantara, causing a blow to Said Aqil’s effort to promote the theology among NU followers living in East Java. Rise of NU Garis Lurus Critiques of the idea of Islam Nusantara also come from the theological ground. A group of young NU kyai have formed a new organisation called the True Path NU’ NU Garis Lurus in 2015. Kyai Muhammad Idrus Ramli, the organisation’s founder and chairman, states that it wishes to eradicate liberal’ theological influence from the NU, as he argues that they have corrupted the organisation’s original aim as an Islamic organisation adhering to Sunni principles Ahlus Sunnah wal Jamaah. These liberal’ influences are not just limited to the ideas articulated by progressive NU activists such as Ulil Abshar Abdalla, but also those articulated by the late Abdurrahman Wahid, NU’s long-time chairman 1984-1999 and Indonesia’s fourth president 1999-2001. Wahid successfully led NU to embrace values such as democracy and religious tolerance; NU Garis Lurus serves as the most serious challenge towards NU’s theological frame that Wahid and his successors have instituted within the organisation over the past three decades. A number of young NU clerics with significant popular following have affiliated themselves with NU Garis Lurus. This includes Buya Yahya, a charismatic preacher who is widely considered to be a future leader of the NU. He has become a strong critic of Islam Nusantara, arguing that it is invented by liberal’ thinkers such as Ulil Abshar Abdalla and Azyumardi Azra. Buya Yahya believes that there is only one universal Islam for all Muslims and thus, there is no need for localised’ Islamic interpretations, whether they are Islam Nusantara, Middle Eastern Islam, or others. NU Garis Lurus activists are also known for their close alliance with activists from conservative Islamist groups, including Islamic Defenders Front FPI and Indonesian Mujahidin Council MMI, bypassing the theological divide that sharply distinguishes NU from these groups. Its activists participated in the 4 November and 2 December 2016 rallies in Jakarta, calling for the trial of the city’s governor Basuki Tjahaja Purnama for allegedly committing a blasphemous act against Islam. NU Garis Lurus Not To Be Ignored The NU leadership tends to dismiss NU Garis Lurus as a fringe group that does not represent the organisation and does not attract many followers. However, it would be a mistake for them to continue dismissing it, given its prominent role during the Jakarta rallies and given that propagation dakwah seminars organised by its affiliated ulama have attracted tens of thousands followers throughout Indonesia. NU already faces criticisms for losing its moral authority in the aftermath of the 4 November and 2 December rallies. It should pay more attention to the challenge from NU Garis Lurus and its activists, as the group could one day change its outlook and worldview. If this happens, NU would be a completely different organisation from the one that is widely-known today. About the Author Alexander R Arifianto PhD is a Research Fellow with the Indonesia Programme, S. Rajaratnam School of International Studies RSIS, Nanyang Technological University, Singapore. This is part of a series. Nahdlatul Ulama NU adalah organisasi islam terbesar di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1926. Kontribusi NU untuk Islam dan Indonesia sudah tidak diragukan lagi. Bahkan, setiap tokoh yang memimpin organisasi NU dapat dipastikan masuk dalam deretan nama tokoh muslim paling berpengaruh di dunia versi Royal Islamic Strategic Studies Centre RISSC Yordania karena besarnya pengaruh NU untuk peradaban islam. Di antara bidang yang menjadi fokus organisasi NU adalah dalam dunia pendidikan. NU berperan aktif membantu negara mewujudkan masyarakat yang cerdas dan berilmu pengetahuan. Kontribusi nyata NU dalam bidang pendidikan dibuktikan dengan banyaknya pesantren, lembaga sekolah dan perguruan tinggi, baik yang berada dalam naungan organisasi NU secara penuh maupun yang memiliki irisan kedekatan dengan organisasi NU. Di antara perguruan tinggi yang berafiliasi dengan NU sebagiannya adalah berikut ini, daftar perguruan tinggi, universitas, kampus NU Universitas NU GorontaloUniversitas NU Sulawesi TenggaranUniversitas NU Samarinda KaltimUniversitas NU KalselUniversitas NU KalbarUniversitas NU SumutUniversitas NU LampungUniversitas NU SumbarUniversitas NU NTB Universitas NU MalutUniversitas NU JakartaUniversitas NU CirebonUniversitas NU PurwokertoUniversitas NU CilacapUniversitas Maarif NU KebumenUniversitas NU JogjakartaUniversitas NU SurakartaUniversitas NU JeparaUniversitas NU Sunan Giri UNUGIRI BojonegoroUniversitas NU SurabayaUniversitas NU BlitarUniversitas NU SidoarjoUniversitas Islam Nusantara BandungUnira MalangUnisma MalangUIJ JemberUnsuri SurabayaITSNU PasuruanSTAI Salahuddin PasuruanUnwahas SemarangUnsiq WonosoboSTIKES NU TubanAkbid Muslimat KudusSTKIP NU TegalSTKIP NU IndramayuITS NU PekalonganPoliteknik Posmanu PekalonganPoliteknik Maarif BanyumasIAINU KebumenSTAI NU PacitanSTAI NU PurworejoSTAI NU PurwakartaSTAI NU MalangIAI Maarif NU Metro LampungSTISNU AcehSTIESNU BengkuluSTAINU MadiunUmaha SidoarjoSTAI Almuhammad CepuSTAINU BloraUniversitas Islam Makassar STAINU TasikmalayaUNUSIA JakartaUNISDA LamonganSTAINU Al-AzharUiversitas Islam Nahdlatul Ulama UNISNU JeparaUniversitas Islam Kadiri UNISKA UNU Sumatera UtaraIAINU KebumenIAI An-Nawawi PurworejoUNUGHA CilacapSTAIQOD JemberUNHASY Tebuireng JombangSTIKAP PekalonganUNIB Situbondo STAI Darul Falah Bandung BaratUNDARIS UngaranIAI Tribakti KediriUniversitas Yudharta PasuruanSTID Sirnarasa PanjaluUNISLA LamonganSTAI Salahudin Al-AyyubiUNIPDU JombangUNWAHA JombangUNDAR JombangUniversitas Islam Madura PamekasanINAIFAS JemberUIJ JemberIAIDA BanyuwangiSTIT Sunan Giri TrenggalekSTAI Miftahul Ula Nglawak Kertosono NganjukSTAI Badrus Sholeh Purwoasri KediriSTIADA Krempyang NganjukIAI P Diponegoro NganjukSTAI NU TemanggungUnsuri PonorogoSTAI Hasanuddin PareSTAIFA Sumbersari PareInstitut Pesantren KH Abdul Chalim IKHACSTAI Hasan Jufri BaweanSTIT NU Al Hikmah MojokertoSTIS Miftahul Ulum LumajangSTIT Daru Ulum KotabaruSTIDKI NU IndramayuSTKIP Padhaku IndramayuSTAIS Dharma IndramayuSTIT Al-Amin IndramayuSTKIP Al-Amin Indramayu KAMPUS TERBAIK PASURUANKAMPUS FAVORIT PASURUANKAMPUS UNGGUL PASURUANKAMPUS TERKEREN PASURUAN Post navigation Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Fenomena soal ormas Islam Nahdlatul Ulama NU yang mengklaim memiliki jumlah anggota puluhan juta orang dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia, ternyata tidaklah homogen. Bisa jadi ketika ada seseorang mengaku sebagai "orang NU" mesti ditanyakan terlebih dahulu, NU yang mana? NU garis lurus, garis lucu atau garis keras? Fenomena ke-NU-an di era milenial jika dipandang dari sisi kulturnya memang beragam, entah apakah masing-masing pendukungnya khidmat kepada pemimpinnya sendiri-sendiri, ataukah mereka sekadar ikut-ikutan karena memang sudah ditakdirkan memiliki garis kultur NU yang dibawa secara turun-temurun oleh orang tua mereka. Melihat berbagai fenomena "ke-NU-an" belakangan seakan menunjukkan bahwa ormas ini terus diseret-seret oleh beragam kepentingan, sehingga hampir dipastikan bahwa ormas ini justru telah kehilangan pijakannya karena memang tak ada sosok kharismatik yang mampu menjadi wujud ormas Islam tradisional, NU memang membutuhkan sosok pemersatu yang dapat diterima oleh semua pihak, karena kekuatan sebuah kelompok tradisional adalah keyakinannya yang kuat terhadap tokoh kharismatis, entah itu kiai, ulama atau habib. Menarik melihat perkembangan ormas tertua di Indonesia ini, karena memang NU sebenarnya bukanlah organisasi struktural, tetapi lebih pada nuansa solidaritas kekulturan yang terbangun sekian lama, tanpa harus mengikatkan diri atau taat pada "struktural" garis kebijakan organisasinya. Maka sangat wajar, ketika para tokoh masyarakat, semisal kiai, habib atau ustadz bisa saja merupakan tokoh sentral dalam tubuh NU, yang diikuti oleh masyarakatnya, tanpa harus menjadi bagian dari struktur NU. Itulah kenapa, kemunculan klaim atas NU yang mengidentifikasikan kelompoknya-garis lurus, garis lucu, atau garis keras-menjadi sulit terbantahkan secara kultural. Sulit untuk tidak mengatakan, bahwa ormas ini pada tataran sosio-kultural, memang tak pernah sepi dari konflik. Anehnya, masing-masing kelompok yang berkonflik tak mau melepaskan diri dari identitas ke-NU-annya, karena NU bagi mereka merupakan sebuah "kultur" yang asli lahir dari rahim Nusantara, bukanlah sebuah "ideologi impor" yang diserap dari kultur lain. Untuk menggambarkan fenomena "NU Garis Lurus" saja, tampak sekali kelompok ini merasa harus menjadi pahlawan untuk "meluruskan" NU yang sejauh ini mereka anggap "bengkok". Bagi kelompok ini, NU kultural jelas tak pernah mengimpor berbagai ideologi asing yang disebut mereka sebagai "SEPILIS" Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme yang belakangan malah menggejala di kalangan anak muda NU. Mungkin kelompok ini bagi saya, kesulitan menyandingkan idealitas Islam dan modernitas, sehingga dari pada bercampur aduk, lebih baik NU "diluruskan" lagi fenomena "NU Garis Lucu" yang mungkin merasa "gerah" dengan berbagai unggahan di ranah media sosial medsos yang selalu memojokkan NU. Kelompok ini kerap menguasai lini medsos dan mengunggah meme-meme lucu yang melakukan counter atau kritik terhadap mereka yang mengaku NU tetapi justru "menyerang" identitas ke-NU-annya sendiri. Sebuah tagline yang muncul di akun twitter-nya menyebut, "sampaikanlah kebenaran walaupun itu lucu" seakan kelompok ini enggan mendebat secara berapi-api karena hanya akan menghabiskan energi. Membalas dengan fenomena santai dan kelucuan, barangkali menjadi "simbol" para kiai NU yang kemudian "disorogkan" kepada publik. Bisa jadi kelompok ini memang selaras dengan slogan Pegadaian, "menyelesaikan masalah tanpa masalah" yang setiap unggahannya dikemas dalam nuansa simpatik, tanpa harus menunjukkan sikap penolakan atau kebencian. Barangkali yang lebih berwajah "galak" ada juga dalam tubuh NU. Kelompok ini secara kultur, memang menganut tradisi peribadatan selaras dengan NU, walaupun dalam hal pergerakan kurang mengangkat soal tema moderasi Islam. Fenomena kelompok NU "Garis Keras" saya rasa takdirnya jatuh kepada sosok Front Pembela Islam FPI yang memang sejauh ini para pemimpin dan pengikutnya terbiasa mengamalkan ajaran-ajaran tradisi ke-NU-an. Sulit dipungkiri, bahwa FPI juga sejatinya disokong oleh mereka yang mengklaim sebagai "NU kultural", bahkan tempat pendeklarasian pertamanya, Pesantren Al-Umm, dipimpin oleh seorang ulama NU, KH Misbahul Anam, salah satu pengikut Tarikat Tijaniyah di kalangan NU sebagai sebuah ormas yang mewarisi tradisi keislaman Nusantara dengan ciri khasnya yang moderat-sebagaimana praktik keagamaan para wali-nampaknya sulit disematkan belakangan ini. Begitu banyaknya kelompok yang melakukan klaim atas ke-NU-annya sendiri disertai dengan beragam kepentingannya masing-masing, memperlihatkan NU semakin kehilangan arah. Banyak pihak yang menginginkan NU benar-benar menunjukkan wajah moderatismenya seperti pada masa-masa awal, disaat beberapa kiai kharismatis benar-benar mempertontonkan ketulusan, kejujuran dan khidmatnya yang sangat besar terhadap umat. Hadratussyekh Hasyim Asy'ari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri, Kiai Ridwan memang menjadi tokoh sentral yang senantiasa memberikan kesejukan yang benar-benar menjadi panutan umat. Tentu saja, ditengah nuansa "konflik sektarianisme" belakangan, sosok-sosok ini sungguh sangat dirindukan. 1 2 Lihat Humaniora Selengkapnya Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Untuk mengantisipasi konferensi NU ke-33 di Jombang pada tahun 2015, berbagai jenis fenomena islam radikal muncul. Yaitu, suatu kelompok yang bertindak atas nama NU Garis Lurus NUGL, yang secara radikal menentang semua kelompok yang berbeda dari diri mereka sendiri. Grup ini dipimpin oleh Lutfi Bashori Malang, Yahya al-Bahjah Cirebon, dan Idrus Ramli Jember.Dengan gaya radikal, NU Garis Lurus menjelma menjadi gerakan neo-khawarij, menuduh siapa saja yang menyimpang dari versi tafsir religiusnya, termasuk Gus Dur, M. Quraish Shihab dan Kiai Said Aqil Siradj NU moderat. Pengejekan terhadap figur NU yang moderat persis sama dengan ejekan mereka kepada sekelompok jaringan Islam liberal Ulil Abshar Abdalla, dkk.. Gaya radikalisme ini tentunya membingungkan para warga Nahdliyyin. Keberhasilan NU Garis Lurus, yang mampu memobilisasi jemaahnya, baru-baru ini terlihat jelas dalam pemilihan presiden 2019. Kelompok kecil ini mendukung pasangan Prabowo-Sandi ketika mayoritas warga Nahdliyyin mendukung Jokowi-Amin. Visi-misi NU Garis Lurus memang untuk menentang mayoritas muslimin. Untuk menyerang NU Moderat, NU Garis Lurus mengangkat isu-isu lama seperti permusuhan terhadap kaum Syiah dan Ahmadiyah. Ironisnya, NU garis lurus malah tertipu oleh Wahhabi yang secara kaku mengubah teks kitab Ar-Risalah yang dikarang Hadratus Sheikh Hasyim Asy'ari. Mbah Hasyim tidak memusuhi kelompok Syiah secara umum, tetapi secara khusus adalah Syiah Rafidha, mereka yang memusuhi para sahabat Syiah Rafidhah tidak ada di Indonesia. Namun, karena ditangkap oleh versi Wahhabi, NU Garis Lurus malah membandingkan semua Syiah tanpa bisa membedakan mana yang Rafidha dan mana syiah secara umum. Di sinilah potensi destruktif dari aliran NUGL menjadi sangat jelas. Sehingga ia tidak berbeda dengan kelompok islam radikal destruktif dari aliran NUGL sangat jelas. Dalam setiap dakwahnya, tuduhan terhadap kelompok di luar dirinya terdistorsi, dianggap salah tempat, selalu tidak benar. Tidak hanya terhadap kelompok Syiah, Ahmadiyah, bahkan tokoh-tokoh seperti Gus Dur, Quraish Shihab dan Kiai Said Aqil Siradj tidak pernah bebas dari tuduhan bahwa mereka telah menyimpang. Arti konsep Aqidah Ahlus Sunah wal Jamaah dan teks-teks buku yang ditulis oleh Hadratus Sheikh Hasyim Asy'ari ditafsirkan sesuai dengan perspektif kelompok mereka NUGL tidak dapat dilihat secara terpisah dari peran yang dimainkannya, yaitu anti-tesis sekolah liberal yang diprakarsai oleh anak-anak muda NU moderat. Namun, gerakan yang terlalu kanan malah akan membuat masalah nasional dan masalah agama menjadi lebih rumit. Pada dasarnya NUGL hanya ada untuk mengacaukan dialektika internal NU. ******Puritanisme adalah gerakan konsep agama yang berjuang untuk keaslian. Pada akhir abad ke-16, Puritan ingin menyucikan doktrin Katolik Roma dari doktrin yang tidak dianggap Katolik. Di Timur Tengah terjadi pada abad ke-18, ketika Wahhabisme dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab. Wahhabisme ingin membebaskan Islam dari ajaran yang tidak dianggap Islam. 1 2 Lihat Hukum Selengkapnya Menimbang Radikalisme NU Garis Lurus Neo-Khawarij Oleh KH. Imam Jazuli, Lc., Menjelang Muktamar NU ke-33 di Jombang tahun 2015, muncul fenomena radikal jenis lain. Yakni, kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai NU Garis Lurus, yang secara radikal memusuhi seluruh kelompok yang berbeda dari dirinya. Kelompok ini digawangi oleh Ustad. Luthfi Bashori Malang, Ustad Yahya al-Bahjah Cirebon, dan Ustad Idrus Ramli Jember. Dengan gaya radikal, NU Garis Lurus menjelma gerakan neo-khawarij, yang menuduh sesat siapa saja yang menyimpang dari tafsir keagamaan versi dirinya, termasuk Gus Dur, M. Quraish Shihab, dan Kiai Said Aqil Siradj. Tokoh-tokoh NU Moderat ini tidak lepas dari cercaan mereka. Mencerca tokoh NU moderat sama persis dengan saat mencerca kelompok Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla, dkk.. Radikalisme neo-khawarij ini membuat jamaah Nahdliyyin terkocar-kacir. Bahkan, keberhasilan NU Garis Lurus menggalang jamaah sendiri terlihat jelas saat Pilpres 2019 tempo hari. Golongan kecil ini mendukung pasangan Prabowo-Sandi di kala mayoritas warga Nahdliyyin mendukung Jokowi-Amin. Visi awal NU Garis Lurus memang untuk menentang golongan mayoritas. Dalam rangka menyerang NU Moderat, NU Garis Lurus mengangkat isu-isu lama, seperti permusuhan terhadap Syi’ah dan Ahmadiyah. Ironisnya, NU Garis Lurus terperdaya oleh kaum Wahhabi yang mentahrif atau mengubah teks kitab ar-Risalah karya Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari. Mbah Hasyim tidak memusuhi kelompok Syi’ah secara umum, tetapi khusus Syi’ah Rafidhah, yakni mereka yang memusuhi para sahabat Nabi. Di Indonesia, kelompok Syi’ah Rafidhah itu tidak ada. Tetapi, karena terjebak oleh versi Wahhabi, NU Garis Lurus menyamakan seluruh Syi’ah tanpa mampu membedakannya dengan Rafidhah. Dari sinilah potensi destruktif aliran NU Garis Lurus terlihat nyata. Sehingga ia tak ubahnya dengan golongan radikalis Islam lainnya. Watak destruktif dari aliran NU Garis Lurus ini sangat kentara. Dalam setiap dakwahnya, tuduhan kelompok di luar dirinya telah menyimpang, sesat, “tidak-lurus”, sangat mudah dijumpai. Bukan saja golongan Syi’ah, Ahmadiyah, bahkan tokoh-tokoh seperti Gus Dur, Quraish Shihab, dan Kiai Said Aqil Siradj pun tidak lepas dari tuduhan telah berbuat menyimpang. Pemaknaan terhadap konsep Akidah Ahlus Sunah wal Jamaah dan teks-teks kitab karangan Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari ditafsiri sesuai perspektif kelompoknya. Kehadiran NU Garis Lurus tidak lepas dari peran yang ingin dimainkannya, yakni anti-tesa terhadap aliran liberal yang digagas oleh anak-anak muda NU. Namun begitu, gerakannya yang terlalu ekstrim kanan membuat persoalan kebangsaan dan keagamaan semakin rumit. NU Garis Lurus hadir hanya untuk meramaikan persoalan dialektika internal NU dengan jalur dakwah puritanisasi. Puritanisme adalah gerakan paham keagamaan yang memperjuangkan keaslian. Akhir abad 16 di Inggris, kaum puritan ingin memurnikan ajaran Katolik Roma dari ajaran-ajaran yang dianggap bukan dari Katolik. Di Timur Tengah terjadi pada abad ke-18, ketika aliran Wahhabisme dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab. Wahhabisme ingin membersihkan Islam dari ajaran-ajaran yang dianggap bukan dari Islam. Dengan menyerang tokoh-tokoh besar NU seperti Gus Dur, Quraish Shihab, Said Aqil Siradj, NU Garis Lurus mengusung paham puritanisme. Terminologi “Garis Lurus” digunakan untuk ajaran puritanisme mereka. Yakni, mengebiri aspek-aspek keagamaan dan pemikiran di tubuh NU, yang menurut mereka tidak sejalan dengan ajaran Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari. Pengebirian ini pula tidak lepas dari konteks sosial-politik pada jamannya. Yaitu, kelompok NU Garis Lurus ini mengalami kekalahan telak pada Muktamar NU ke-33 tersebut. Idrus Ramli dan kawan-kawan hanya mendapatkan suara yang sedikit dan tidak masuk ke dalam kepengurusan struktural PBNU. Satu-satunya jalan adalah berbeda dengan NU Moderat melalui propaganda keagamaan, yang disebutnya Garis Lurus. Sehingga dalam perjalanannya, NU Garis Lurus akan terus menyerang PBNU baik dalam aspek keorganisasian maupun non-organisasi. Siapa pun mau menyerang PBNU, sejatinya sudah difasilitasi, yakni dengan adanya media intelektual seperti tradisi Bahtsul Masail. Di sana semua urusan agama fikih, akhlak, dan Aqidah dapat dibicarakan secara akademik. Namun, NU Garis Lurus lebih sering su’ul adab tidak beretika dan mengabaikan diskusi terbuka di panggung Bahtsul Masail. Padahal, inilah kesempatan mereka duduk bersama dengan seluruh entitas kelompok dan aliran pemikiran yang ada dalam tubuh NU sendiri. Jika NU Garis Lurus memang memperjuangkan kebenaran dan ilmu pengetahuan, bukan kekecewaan karena tidak mendapat kekuasaan dan struktur jabatan, semestinya menghindari tuduhan-tuduhan sepihak yang menyudutkan NU Moderat. Bahtsul Masail jangan ditinggalkan, supaya jamaah Nahdliyyin tidak jadi korban.

daftar ulama nu garis lurus