Jenis ini menggunakan media kayu yang dibentuk secara tiga dimensi. Wayang jenis ini banyak tersebar di daerah kawasan Jawa bagian Barat. Untuk cara pementasannya hampir sama dengan wayang kulit, yakni lakon dan cerita dimainkan oleh seorang dalang. Yang membedakan, dialognya biasanya dibawakan dalam bahasa Sunda. Tahap pertama, naskah lakon cerita wawacan dari sastra Jawa langsung disalin, tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda. Tahap kedua, sudah mulai ada upaya menterjemahkan ke dalam bahasa Sunda agar isinya dapat dipahami oleh masyarakat Sunda. Tahap ketiga, menciptakan cerita-cerita yang sudah ada sejak zaman dahulu. Dalam pengisian suara sebuah film dapat dilakukan sebelum atau sesudah filmnya selesai. Kebanyakan dubbing dilakukan saat film masih dalam proses, tetapi kadang-kadang seperti dalam animasi Jepang, efek suara justru dilakukan setelah filmnya selesai dibuat. Dalam pembuatan motion grafis “Miya dan Wayang’ penulis menggunakan 8) Cerita wayang (teks dalam bentuk prosa, puisi Sunda Kuno, atau puisi pupuh, cerita bagian dari Mahabarata atau Ramayana) antara lain: Parikesit dan Gandamana 9) Cerita prosa dan dongeng (teks dalam bentuk prosa, isinya cerita yang dikarang oleh Wayang ini mengadaptasi bahasa Melayu Palembang dalam pementasannya, ada orkestra gamelan dan juga rebana. 6. Wayang Cirebon Wayang Cirebon populer di daerah Cirebon di Jawa Barat. Wayang ini dibawakan dengan menggunakan campuran bahasa Sunda dan bahasa Jawa. Pilihan warna pada wayang biasanya berani, warna kontras. 7. Wayang Kancil Sejarah, Struktur, dan Pembagian Carita Pantun Sunda Sumber: Disparbud garut. Dari pembahasan dengan bahasa sunda diatas kini kita tahu bahwa carita pantun adalah cerita yang biasanya dilakonkan oleh juru pantun (tukang pantun) dalam suatu pagelaran pada ritual atau ruatan yang disebut dengan mantun. .

cerita wayang dalam bahasa sunda